Minggu, 13 Juli 2014

Cara Membuat Kompos



Membuat Kompos dengan bahan aktif EM4

Effective micro organism (EM4) adalah merupakan kultur campuran dari microorganisme yang menguntungkan,bermanfa'at bagi kesuburan tanah maupun pertumbuhan dan produksi tanaman,serta ramah lingkungan.
EM4 mengandung mikro organisme fermentasi dan sintetik yg terdiri dari asam laktat (lactobacilus sp.) Actinomycetes sp., Bakteri Foto sintetik (Rhodopseudomonas), Streptomyces sp., dan ragi (yeast).
satu hal yg harus di perhatikan dalam aplikasi EM4 adalah jangka hidup dari mikro organisme yang terkandung di dalamnya. Dalam kondisi dorman di kemasan, EM4 dapat disimpan selama satu tahun.

 Selain bermanfa'at bagi peningkatan kesuburan tanah  dan tanaman, EM4 jugabermanfa'at untuk menfermentasi sampah organik menjadi pupuk organik (pupuk kompos).

EM4 di gunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan pupuk kompos yang biasa di sebut bokashi.

Berikut beberapa cara pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos (bokashi) berdasarkan Indonesia Kyusei Nature Farming Societies.


Bokashi Jerami
Bahan:
1. 500 kg jerami
2. 100  kg pupuk kandang

3. 100 kg dedak
4. 300 kg sekam
5. 1 liter EM4
6. Molase (250 gr gula pasir/merah + 1 liter air)
7. air secukupnya

Cara pembuatan:

1.Buat larutan dengan EM4, gula pasir dan air.
2.campur dan aduk secara merata jerami, sekam dan dedak
3.siramkan larutan EM4 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata sampai kandungan air mencapai 30~40 %. Ukurannya adalah apabila dikepal dengan tangan, air tidak menetes dan bila dilepas maka adonan masih menggumpal, dan mekar.
4.Hamparkan adonan di atas ubin yg kering dgn ketinggian minimum 15~20 cm kemudian tutup dgn karung goni atau kain tebal selama 4-7 hari.
5.Pertahankan suhu gundukan adonan antara 40~50ocelcius. Jika suhu mendekati 50o c,
karung di buka dan gundukan adonan di aduk aduk, baru di tutup kembali. Suhu tinggi akan menyebabkan bokashi akan rusak. Pengecekan suhu di lakukan setiap 5 jam. 
6.Pada hari ke 4~7 kompos telah matang, sehingga panas tidak tinggi lagi. Apabila dibuka nampak ditumbuhi jamur berwarna putih dan bila dipegang terasa hangat. Kompos ini sudah bisa digunakan tetapi belum hancur sehingga bentuk dan ukuran masih seperti bahan baku. Untuk menjadikan kompos halus harus menunggu selama 21 hari. Selama Proses penghancuran gundukan kompos diaduk setiap satu minggu sekali.
7.Gunakan bokashi sebagai pupuk organik setelah 4~7 hari di lakukan fermentasi. Sebelumnya pupuk diangin-anginkan terlebih dahulu agar sama dgn suhu ruangan.
Dengan komposisi ini akan di hasilkan pupuk sebanyak satu ton.




Bokashi Pupuk Kandang.
Bahan:
1. 300 kg pupuk kandang.
2. 50 kg dedak.
3. 150 kg sekam.
4.
200 ml Molase atau gula pasir/merah yg di haluskan 20 sendok makan.
5. 500 ml (50 sendok makan) EM4.
6. Air secukupnya.

Cara Pembuatan:
1. Buat larutan yg terdiri dari gula, EM4 dan air.
2. Campur pupuk kandang, sekam dan dedak, secara mereta.
3. Siramkan larutan EM4 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata sampai kandungan air mencapai 30~40 %. ukurannya adalah apabila di kepal dengan tangan, air tidak menetes dan bila dilepas maka adonan masih menggumpal, dan mekar.

4. Hamparkan adonan di atas ubin yg kering dgn ketinggian minimum 15~20 cm kemudian tutup dgn karung goni atau kain tebal selama 4~7 hari.
5. Pertahankan suhu gundukan adonan antara 40~50o celcius. Jika suhu mendekati 50o c karung dibuka dan gundukan adonan diaduk-aduk, baru ditutup kembali. Suhu tinggi akan menyebabkan bokashi akan rusak.Pengecekan suhu dilakukan setiap 5 jam.
 6. Pada hari ke 4~7 kompos telah matang, sehingga panas tidak tinggi lagi. Apabila dibuka nampak ditumbuhi jamur berwarna putih dan bila dipegang terasa hangat. Kompos ini sudah bisa digunakan tetapi belum hancur sehingga bentuk dan ukuran masih seperti bahan baku. Untuk menjadikan kompos halus harus menunggu selama 21 hari. Selama Proses penghancuran gundukan kompos diaduk setiap satu minggu sekali.
7. Gunakan bokashi sebagai pupuk organik setelah 4~7 hari di lakukan fermentasi. Sebelumnya pupuk diangin-anginkan terlebih dahulu agar sama dgn suhu ruangan.

Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat.

Sabtu, 12 Juli 2014

Tanaman Buah Dalam Pot



Tabulampot Sawo Jumbo


Tanaman hias untuk ruangan kerja atau ruangan tamu serta lobi sebuah hotel tidak hanya berupa bunga dan tanaman tanpa bunga. Tanaman hias itu juga bisa berupa tanaman buah dalam pot yang populer dengan sebutan tabulampot.
Tanaman buah dalam pot lebih asyik dan nikmat dipandang, dibandingkan dengan tanaman hias berupa bunga dan nonbunga. Kenikmatan ganda bisa diperoleh dari tanaman buah dalam pot. Selain bisa memandangi indahnya bunga dan menghirup wangi bunga, kita juga bisa menikmati indahnya buah yang menguning bergantungan pada dahan atau Rantingnya.
“Buah yang menggantung itu juga lambang keberhasilan.” Jika menanam tanaman, yang diharapkan tumbuh adalah hanya sekedar batang dan daun itu gampang, semua orang bisa melakukannya. Tetapi, kalau harus tumbuh batang, daun, dan keluar bunga lalu berbuah, tidak semua orang bisa. “Hanya orang-orang yang benar-benar mencintai tanaman dan tekun merawatnya yang bisa membuat tanaman itu berbunga dan berbuah.”
Tanaman buah dalam pot dari sisi estetika sangat tidak kalah dengan tanaman hias lainnya.
“Kebahagiaan yang kita peroleh adalah bisa melihat Tanaman itu berbuah lebat, memetik urusan lain, sayang kalau segera dipetik. Nah, kalau sudah masak benar baru dipetik dan dimakan. Jika kita mengikuti tanaman buah dalam pot sejak awal tanam sampai berbunga dan kemudian buahnya bergantungan, wah sungguh membuat kita jadi bahagia sekali,”

Adapun buah-buahan yang bisa ditanam dalam pot antara lain belimbing, jambu air, jambu biji, jeruk-jerukan, sawo, delima, kelengkeng, mangga dll.
Tanaman buah dalam pot yang awalnya digagas bagi penghuni rumah sehat sederhana yang sempit pekarangannya untuk berkebun itu kini berkembang menjadi tanaman hias. Kendati demikian, tanaman buah dalam pot yang di dunia hanya dikembangkan di Indonesia ini belum begitu populer. Penggemarnya masih terbatas. Bisa jadi hal itu disebabkan karena butuh ketekunan dan memerlukan perawatan tersendiri.